Speeches for Inquiring Mind

Icon

Islam itu Mudah, Islam Itu Indah, Islam itu Sempurna…

Bingkisan untuk Kaum Palestina (1)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Asy-Syaikh Al-‘Allamah Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam risalahnya Fiqhul Waqi’ hal 48-50 menjelaskan :

 ”Sesungguhnya sebab mendasar kehinaan kaum muslimin ialah :

a.     Kebodohan mereka tentang syari’at Islam yang Allah turunkan kepada hati Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam .

b.     Mayoritas kaum muslimin telah mengetahui hukum-hukum Islam dalam sebagian urusan mereka, namun mereka tidak mau mengamalkan

 Dengan demikian, kunci kembalinya kemuliaan Islam ialah dengan mempraktekkan ilmu yang bermanfaat dan mengerjakan amal shalih. Ini adalah masalah besar yang tidak mungkin dicapai oleh kaum muslimin melainkan dengan menerapkan manhaj At-Tashfiyyah (pembersihan) dan At-Tarbiyyah(pendidikan). Dua hal ini adalah dua kewajiban yang sangat penting dan sangat agung kedudukannya.

 Yang saya maksud dengan At-Tashfiyyah adalah beberapa perkara :

  1. Membersihkan aqidah Islamiyyah dari perkara yang menyimpang, seperti kesyirikan, menolak sifat-sifat Allah, menta’wilkan sifat-sifat Allah, menolak hadits-hadits shahih yang berhubungan dengan masalah aqidah, dan yang lainnya.
  2. Membersihkan fiqih islam dari ijtihad-ijtihad keliru yang menyalahi Al-Qur’an dan As-Sunnah dan membebaskan akal dari belenggu-belenggu taqlid dan kegelapan ta’asshub.
  3. Membersihkan kitab-kitab tafsir, fiqih, raqa’iq, dan yang laiinya dari hadits-hadits dha’if (lemah), maudhu’ (palsu), riwayat-riwayatisra`iliyyat, dan munkar.

 Adapun yang saya maksud dengan At-Tarbiyyah ialah mendidik generasi yang tumbuh dengan Islam yang telah dimurnikan dari penyimpangan-penyimpangan di atas. Mendidik mereka dengan pendidkan Islam yang benar sejak dini dan tidak terpengaruh sedikitpun dengan sistem pendidikan ala barat yang kafir.”

 Di tempat lain, Asy-Syaikh Al-Albani Rahimahullah juga menjelaskan bahwa satu-satunya jalan untuk melepaskan muslimin dari kehinaan dan kemundurannya sekarang ini adalah dengan kembali kepada Ad-Dien, yang caranya adalah dengan menerapkan manhaj At-Tashfiyyah dan At-Tarbiyyah. Beliau mengatakan : “Agar kita dapat memberikan dalil yang menunjukkan benarnya pendapat yang kita pegangi dalam manhaj ini, kita kembali kepada Al-Qur’an. Di dalamnya ada satu ayat yang menunjukkan kesalahan orang-orang yang menyelisihi kita pada perkara yang sudah kita yakini dan kita pastikan dengannya, yaitu bahwa Al-Bidayah (langkah pertama untuk kembali kepada dien) adalah dengan melakukan At-Tashfiyyahkemudian berikutnya At-Tarbiyyah, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

إِنْ تَنْصُرُوا اللهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ (7) [محمد/7]

Jika kalian menolong (agama) Allah, maka Allah akan menolong kalian dan mengokohkan kedudukan kalian. [Muhammad : 7]

Inilah ayat yang dimaksud. Di sini para mufassirin telah sepakat : bahwa makna nashrullah (pertolongan Allah) adalah menerapkan hukum-hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala. Termasuk di antaranya adalah beriman dengan hal-hal ghaib yang Allah jadikan syarat pertama bagi kaum mukminin (dengan firmannya) :

الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ [البقرة/3]

Yaitu orang-orang yang beriman terhadap yang ghaib dan menegakkan shalat. [Al Baqarah : 3].

 Maka, apabila pertolongan Allah tidak turun kecuali dengan cara menegakkan hukum-hukum-Nya, maka bagaimana kita dapat masuk ke dalam jihad ‘amali(yakni perang di medan tempur yang kita berharap pertolongan Allah turun padanya) sedangkan kita tidak menolong Allah sesuai dengan yang telah disepakati oleh mufassirin?

Bagaimana kita bisa mendapatkan pertolongan Allah dalam berjihad sedang aqidah kita rusak?

Bagaimana kita bisa mendapatkan pertolongan dalam berjihad sedang akhlak kita bejat?

Jadi, sebelum berjihad harus membenarkan aqidah dan mendidik diri.

 Sungguh aku tahu bahwa manhaj kita dalam melakukan At-Tashfiyyah danAt-Tarbiyyah  tidak terlepas dari pertentangan. Di sana ada yang mengatakan : ‘Sesungguhnya perkara At-Tashfiyyah dan At-Tarbiyyah adalah perkara yang membutuhkan masa yang panjang!‘ Akan tetapi aku katakan bukan itu yang penting dalam perkara ini. Yang penting bahwa kita memulai dengan mengenal agama kita dan setelah itu, tidak menjadi masalah apakah jalannya akan panjang (lama) atau pendek (sebentar).) Sesungguhnya perkataanku ini aku tujukan kepada para da’i muslimin, para ‘ulama, dan para pembimbing umat. Aku mengajak mereka agar mereka berjalan di atas ilmu yang sempurna tentang Islam yang shahih dan agar mereka dapat memerangi berbagai macam kelalaian dan kelengahan serta berbagai perselisihan dan pertentangan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَلا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ [الأنفال/46]

dan janganlah kalian berselisih sehingga menyebabkan kalian menjadi lemah dan hilang kekuatan kalian [An Anfal : 46]

Apabila kita telah menghilangkan perselisihan dan kelalaian ini, dan kita telah menempati Shahwah Islamiyah (kebangkitan Islam) yang bersatu dan bersepakat, berarti kita mulai mengarah untuk merealisasikan kekuatan materi. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

 

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللهِ وَعَدُوَّكُمْ [الأنفال/60]

Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dari kuda-kuda yang ditambatkan untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu [Al Anfal : 60]

Merealisasikan kekuatan materi adalah suatu perkara yang harus dilaksanakan, misalnya dengan harus membangun pabrik-pabrik senjata dan yang lainnya. Tetapi, sebelum itu semua haruslah kembali kepada ad-Dien yang benar sebagaimana yang ditempuh dan dijalani oleh RasulullahShalallahu ‘Alaihi Wasallam  dan para shahabatnya Radhiallahu ‘Anhum, baik dalam masalah aqidah, ibadah, suluk (akhlaq), dan dalam seluruh perkara yang berkaitan dengan syariat.

Oleh karena itu, aku ulangi kembali perkataanku : Tidak ada jalan untuk terlepas dari kenyataan yang menyedihkan yang menimpa umat ini melainkan (dengan cara kembali) kepada Al-Kitab dan As-Sunnah, dan menerapkan At-Tashfiyyah dan At-Tarbiyyah dalam rangka kembali kepada dua dasar tersebut. Untuk itu kita dituntut untuk mengetahui ilmu hadits yang dengannya kita bisa membedakan antara hadits yang shahih dan hadits yang dhaif, agar kita tidak menentukan hukum-hukum (agama) dengan cara yang salah, sebagaimana yang telah terjadi di kalangan muslimin akibat  terlalu banyaknya mereka berpegang kepada hadits dha’if…” )

 


Filed under: Renungan..., Yahudi , , , , ,

Leave a Reply

“Hari inilah Kusempurnakan agamamu ini untuk kamu sekalian dengan Kucukupkan NikmatKu kepada kamu, dan yang Kusukai Islam inilah menjadi agama kamu.” (Qur’an, 5: 3)

“Hari inilah Kusempurnakan agamamu ini untuk kamu sekalian dengan Kucukupkan NikmatKu kepada kamu, dan yang Kusukai Islam inilah menjadi agama kamu.” (Qur’an, 5: 3)

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Alloh …”(Al-An’am : 116)

 

January 2009
M T W T F S S
« Jul   Feb »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031